Mungkin beberapa orang juga pernah berasumsi sama seperti saya mengenai istilah gluten free. Yup, awal mulanya saya mengira makanan bebas gluten adalah makanan bebas (rendah) kalori. Asumsi ini setelah saya membaca postingan Farah Quinn di sosial media yang menceritakan dirinya lebih ramping setelah melakukan diet gluten. Artinya konsep gluten free di kepala saya adalah tidak mengkonsumsi produk gandum juga beras, heeeeee.
Tidak sampai disitu saja, beberapa artikel mengenai resep kue bebas gluten semakin memperkuat keyakinan saya bahwa bebas gluten itu adalah "bebas kalori" (kebetulan pada beberapa resep yang saya baca memang tidak menyertakan tepung terigu dalam komposisinya).
Asumsi ini kemudian runtuh ketika saya penasaran dengan tekstur kue bolu berbahan tepung beras dan tepung ketan. Yap pada resep yang saya baca ada embel-embel gluten free. "Whaaaat pake tepung beras dan ketan adalah gluten freee", ternyata asumsi saya selama ini salah. Dan supaya tidak terjerumus lebih dalam pada asumsi yang salah, mulailah pencarian di google mengenai apa itu gluten free.
"Gluten merupakan salah satu jenis protein yang biasanya terkandung di dalam gandum hasil persilangan (Triticale), gandum biasa, dan jelai atau barley. Makanan gluten-free sebenarnya ditujukan kepada mereka yang memiliki penyakit celiac atau mereka yang memiliki intoleransi gluten". Sumber : http://www.alodokter.com/menelusuri-makna-gluten-free.
Okey confirmed bahwa ternyata gluten itu berbicara mengenai salah satu jenis protein :).
Lalu bagaimana dengan saya, apakah saya perlu melakukan diet gluten? Untuk ini saya juga mencari tahu tentang apa itu penyakit celiac atau intoleransi gluten (iya dong, dalam hal seperti ini seseorang perlu penjelasan yang pasti, supaya ketika pun melakukan diet ini, mereka melakukannya tidak karena ikut-ikutan semata, tapi karena memang mengetahui manfaatnya).
"Penyakit celiac adalah kondisi di mana pencernaan seseorang mengalami reaksi negatif saat mengkonsumsi gluten. Gluten sendiri adalah protein yang bisa ditemukan pada beberapa jenis sereal seperti gandum, jelai (barley), dan gandum hitam. Beberapa makanan yang mengandung sereal tersebut adalah pasta, keik, sereal sarapan, saus atau kecap tertentu, sebagian besar roti, dan beberapa jenis makanan siap saji.
Celiac bukanlah alergi atau intoleransi tubuh terhadap gluten. Penyakit ini merupakan kondisi autoimun di mana tubuh salah mengenali senyawa yang terkandung di dalam gluten sebagai ancaman bagi tubuh. Maka sistem kekebalan tubuh menyerangnya dan mengenai jaringan tubuh yang sehat.
Jika sistem kekebalan tubuh terus-menerus menyerang jaringan tubuh yang sehat, maka bisa menimbulkan peradangan yang merusak dinding usus. Dan pada akhirnya mengganggu proses penyerapan nutrisi dari makanan". Sumber : http://www.alodokter.com/penyakit-celiac.
Setelah mereview semua sumber di atas mengenai apa itu gluten dan mengapa perlu menghindarinya, kesimpulannya saya bisa tetap mengkonsumsi produk turunan gandum :). Tapi karena potensi gluten terhadap tubuh yang perlu diwaspadai, maka saya memilih untuk mengurangi konsumsinya. Kalo sebelumnya untuk membuat kue bolu pasti pakai tepung terigu, sekarang saya memilih menggunakan tepung beras dan ketan. Selain bisa belajar menggunakan bahan baku lain dalam pembuatan kue khususnya, setidaknya saya belajar untuk tidak terlalu bergantung pada produk impor ini (setahu saya di Indonesia belum ada pertanian gandum).
bolu dengan bahan tepung beras mix ketan ini lembut lho
Oh ya, kalo ada yang mengatakan dengan diet gluten menjadi lebih ramping, menurut saya itu adalah bonus karena tidak mengkonsumsi karbohidrat yang ada pada gandum. Untuk kita orang Indonesia, nampaknya diet gluten untuk merampingkan tubuh sepertinya bukan kunci jawaban jika kita masih mengkonsumsi beras (bandingkan karbohidrat yang dihasilkan beras dan terigu pada berat yang sama) kecuali membatasi konsumsi keduanya.
Ayo bereksplorasi :)







