Senin, 18 September 2017

Membaca yang Menghibur

Beberapa hari ini saya sudah resmi menjadi anggota klub wattpad. Demi....?
Demi membaca cerita-cerita romantis nan  membuai itu ^_^, beberapa di antara karya tulis itu memang dibuat "private", mungkin untuk meningkatkan follower mereka di dunia per "wattpad" an, maka tanpa berat hati lah saya meng"install" aplikasi tsb dan join. 

By the way, beberapa tulisan memang dibuat sangat total yang seakan-akan membawa pembacanya seperti langsung berada dalam situasi tersebut. Well, dari sini saya berpendapat bahwa the real penulis itu memang manusia cerdas di atas rata-rata. Teringat jaman sekolah dulu sempat menghabiskan satu buku cerita Harry Potter and The Goblet of Fire yang hampir setebal alkitab dalam satu minggu saja. Yaa, membaca karya tersebut sangat terasa ringan sampai tidak terasa waktu sudah berjam-jam dihabiskan.

Kembali ke wattpad, saya sedang gak sabaran menunggu updatenya RatuCungpret yang judulnya Resign!!! Cerita ini sama sekali gak receh tapi juga gak berat, dan yang pasti rasa dalam membaca cerita ini seperti rasa ketika membaca kisah Harry Potter dahulu, ringan dan menghibur ^_^. 

Okay, menurut saya tingkat kecerdasan penulis itu memang berbanding lurus dengan pencapaian yang dia raih melalui karyanya (follower-nya banyak dan angka pengunjungnya juga tinggi). Ada beberapa tulisan juga yang saya lewati karena ceritanya terlalu gampang ditebak atau tidak sesuai lagi dengan umur saya sekarang (baca kisah cinta anak sekolah udah gak menarik lagi lah yauuu -_-). Karena itu ketika menunggu update- an dari sang penulis yang walaupun cuma satu minggu, bisa terasa lebih lama dari itu.

Sering dalam keadaan seperti ini saya bertanya pada diri sendiri, "kenapa sih semangat yang berapi-api ini ga muncul ketika membaca buku-buku motivasi, pengetahuan atau alkitab?", jadi merasa bersalah :(.

Tetap membaca ya, tetap harus seimbang ya... menghibur jiwa perlu, tapi membangun jiwa lebih penting lagi.

Senin, 04 September 2017

Terbakar Sampai Berubah Tidak Cukup Hanya Sekali Peristiwa

Pernah gak merasakan sebuah perasaan atau dorongan yang menggebu-gebu setelah mendengarkan khotbah atau seminar motivasi? Saya sering sekali :). Contohnya ketika mendengar khotbah di gereja pada minggu kemarin.

Sebenarnya, saya pribadi lebih banyak terbakar bukan hanya pada kata-kata yang disampaikan, tapi ketika melihat sang pembicara yang kelihatan begitu mengoptimalkan hidupnya. Yaa siapapun dia, apakah dia pendeta atau seorang trainer atau siapapun, bagi saya pasti ada perbedaan yang sangat terasa dalam penyampaian mereka, ketika mereka itu benar-benar belajar dan berusaha dalam kehidupannya dibandingkan dengan orang lain yang hanya sekedar mempelajari satu topik dan menyusunnya karena kebutuhan untuk berbicara di depan umum.

Mungkin ini yang sering dikatakan orang, bahwa hasil itu tidak akan mengkhianati usaha. Orang yang benar-benar "optimal" (ada proses belajar yang menerus sehingga mengalami pertumbuhan jiwa dan rohani serta mempengaruhi sekitarnya) dalam hidupnya, maka ketika dia berbicara pastinya akan memberikan pengaruh kepada pendengarnya.

Karakter bisa dikatakan salah satu hasil dari proses belajar tersebut, mengingat dalam khotbah kemarin dalam Matius 25:14, menitik beratkan bukan pada hasil yang dikerjakan mereka yang punya talenta, tapi pada tanggungjawab. Sehingga pada akhirnya, manusia diingatkan kembali, bahwa dalam kehidupan, hal terpenting bukan hanya pada hasil tapi pada proses.

Hasil itu mengekspresikan kualitas diri, mewakili orientasi hidup. Dalam aplikasi di kehidupan, pertanyaannya adalah ketika orang lain melihat saya, apakah pendapat mereka tentang saya. Seperti ketika melihat seorang tukang, kita dapat menarik kesimpulan dari proses dan hasil pekerjaannya. Seperti ketika saya melihat pendeta yang kemarin berkhotbah, walaupun tidak kenal hidupnya, tapi ada kesimpulan singkat tentang dia dari apa yang dia sampaikan.

Kembali ke motivasi untuk perubahan, dalam perjalanan kehidupan saya, perubahan itu tidak cukup hanya dengan sekali mendengarkan khotbah atau motivasi yang hebat. Beberapa kali saya begitu terkesima ketika mendengarkan, namun beberapa waktu setelahnya hidup kembali sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang salah dengan mendengarkan sesuatu yang menginspirasi, dan saya tahu bahwa diperlukan kedisiplinan yang lebih daripada biasanya untuk bisa sampai ke tahap perubahan. Karena saya tahu bahwa mereka yang sudah dan sedang melalui perjalanan hebat dapat berhasil karena kedisiplinan diri sendiri.

Saya mau merasakan sebuah perjalanan hidup yang luar biasa, bukan untuk diperlihatkan atau diperdengarkan kepada orang lain, tapi untuk sebuah kepuasan dalam hidup bahwa saya tidak menyia-nyiakan hidup, tidak menyia-nyiakan pengorbanan Tuhan saya.

*Mari kumpulkan niat yang besar untuk belajar lagi*

Senin, 07 Agustus 2017

Ujicoba Masak Udang Saos Campur Tahu

Hari sabtu kemarin, setelah perjalanan panjang dari rumah saudara di kebun jeruk, saya mampir ke warung sayur langganan baru untuk belanja lauk buat persediaan selama seminggu kedepan. Karena waktu saya belanja sudah siang (jam 9 pagi), alhasil hampir semua lauk sudah terjual, yang tersisa hanyalah ikan kembung dan udang segar. Langsung saja ikan dan udang itu saya borong :).

Karena waktu tidur malam saya sebelumnya kurang, maka begitu sampai di rumah, saya hanya membersihkan ikan dan udang tadi untuk dimasukan ke dalam kulkas sembari merendam pakaian kotor untuk dicuci. Dilanjutkan dengan membeli 2 galon air di warung tetangga. Begitu selesai lantas saya berleha-leha di atas kasur sambil menghidupkan TV dan bermain HP, hahaha untuk kegiatan yang 1 ini memang saya juga merasa tidak efektif, karena yang pasti TV itu tidak saya tonton dan hanya menambah beban listrik (ini bukan kampanye, jadi jangan dicontoh).

Akhir pekan memang selalu menjadi idola, selain waktu bangun pagi yang tidak diburu-buru, juga adanya waktu untuk tidur siang yang lumayan lama. Ah, siapa yang tidak suka libur akhir pekan? Saking asyiknya saya baru terbangun ketika ada dering telepon dari suami saya. Karena waktu itu sudah lewat jam makan siang dan perut saya yang juga belum merasa lapar, saya tetap mendekam di atas kasur sambil bermalasan. Tapi tidak lama kemudian saya mendengar suara penjual tahu yang lewat di depan rumah, untuk yang 1 ini saya harus berlari ke luar rumah. 

Tahu lembut dan wangi

Saya aslinya penggemar berat tahu bapak yang biasanya lewat sore-sore di depan rumah, tapi sayang sekali berhubung waktu yang tidak pas jarang sekali saya bisa menikmati tahu bapak tersebut, makanya senang banget waktu dengar suara bapak penjualnya lewat di depan rumah. Tahunya lembut, tidak membal, wangi dan manis khas kedelai, karena itu saya langsung borong sebanyak 1 kotak makan ^_^. Oh ya, karena tahu ini begitu lembut, maka untuk penanganannya pun perlu hati-hati, kalau tidak mau tahu ini jadi hancur lebur.

Berhubung saya punya stok udang di kulkas, maka teringatlah saya mengenai masakan udang saos campur tahu dadu goreng, untuk itu saya lantas menyiapkan bumbu setahu saya, sangat menyenangkan. 
Tadaaa, ini hasilnya

Untuk bisa memasak dengan baik itu memang perlu praktek yang terus menerus, karena saya baru dalam hal ini, udang saos campur tahu saya menjadi kurang pas menurut tingkat kepuasan saya :). Urutan memasukan bahan makanan yang salah memang bisa mempengaruhi tekstur dan rasa makanan, ah jadi ingat iklan mie instan tentang urutan menghidangkan mie itu. Yup, tadinya saya berpikir bahwa sepanjang semua bahan yang diperlukan ada, maka jika terbalik 1 urutan proses, maka tidak akan mempengaruhi rasa masakan, ternyata saya salah, belajar lagi ^_^.

Well, walaupun masih harus belajar lagi tapi saya cukup puas dengan hasil masakan pada siang itu. Ditemani dengan capcay ala Mega, maka setengah piring sayur dan udang tahu habis untuk saya sendiri siang itu :).

Okay, prinsip saya, hidup itu tidak boleh pasrah, dan salah satu perwujudannya adalah lewat makanan. Walaupun bahan baku yang ada di kulkas terbatas dan sederhana, bukan berarti dapat dimasak asal-asalan saja. Buat saya, meskipun baru belajar memasak, saya pun harus berjuang untuk menghidangkan masakan yang baik buat diri sendiri. Bahkan jika itu pun hanya mie instan, maka ketika memasaknya tidak bisa sesederhana mendidihkan air dan memasukan mie serta bumbunya, mie instan juga punya hak untuk dimasak lebih baik ^_^, kalau ada sayur ya dicampur, kalau ada telur ya ditambahkan, seperti itu.

Katanya perjuangan hidup itu dilatih dari hal-hal kecil, karena itu jika manusia gampang sekali menyerah dan hanya bisa pasrah tanpa mencoba hal terbaiknya, maka bagaimana dia menjalani kehidupannya yang lain.

Semangat, belajar masak lagi, yess

Rabu, 02 Agustus 2017

Perjalanan Pertama ke Oksibil

Yeay, ini adalah cerita mengenai kunjungan pertama ke tempat suami (saya dan suami saat ini masih tinggal di kota yang berbeda). Perjalanan ini dimulai tanggal 18 Juni malam dari Jakarta dan tiba jam 9 pagi keesokan harinya di Oksibil. Oh ya, dari Jakarta ke #Oksibil memerlukan waktu +/- 6.5 jam di udara, dan perjalanan kemarin saya lalui dengan transit di Jayapura. Dari Jayapura sendiri saya memilih untuk naik pesawat maskapai milik Gatari (setahu saya untuk penerbangan Jayapura - Oksibil dengan pesawat tipe ATR 72 dilayani oleh #Gatari dan #Trigana). Sekedar informasi tentang penerbangan rute ini, jangan berharap ada jadwal yang pasti, karena bisa jadi ketika membeli tiket kita diminta untuk check in tiket jam 7 pagi, penerbangannya bisa delay kapan saja (penyebabnya terutama karena masalah cuaca). Kalau beruntung bisa berangkat sesuai jadwal, kalau tidak ya menunggu pemberitahuan lebih lanjut ^_^.

Sekilas informasi mengenai Oksibil "adalah merupakan ibukota dari kabupaten #PegununganBintang di provinsi Papua, yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Sebagian besar wilayahnya berada di dataran tinggi pengunungan dengan ketinggian 400 s.d 4000 meter dpl, hmm bisa dibayangkan bagaimana dinginnya di sana, brrrr".

Sampai saat saya kembali lagi ke Jakarta, transportasi dari Oksibil ke luar kota dan sebaliknya masih mengandalkan jalur udara. Tidak heran harga bahan makanan, bahan bakar minyak dan kebutuhan lainnya sangat mahal dibandingkan dengan kota yang pilihan jalur transportasinya bisa lewat darat dan laut ( harga di Oksibil bisa > 3 x lipat). Sebagai contoh untuk harga beras bisa mencapai harga 35.000 rupiah/ kg di pasaran, harga bensin 40.000 rupiah/ liter di pengecer (untuk bensin subsidi tetap sama dengan kota lainnya, cuma pembeliannya dibatasi hanya untuk motor dengan kuantiti 3 liter/ motor, itupun karena persediaan terbatas sehingga penjualan dalam 2 jam sudah habis).

Area bandara (gerbang masuk kota Oksibil ada Gapura dengan patung Yesus Kristus di atasnya)

Hari pertama di Oksibil, saya dan suami langsung membeli peralatan memasak, karena suami saya juga baru pindah ke rumah dinas. Respon pertama saat berbelanja peralatan dapur sampai membuat saya pusing kepala, hahaha. Bagaimana tidak, uang 1 juta rupiah habis untuk membeli 1 kompor hock imut yang 10 sumbu, 1 kuali kecil untuk menggoreng, 1 panci kukusan kecil, 1 sendok goreng dan saringannya, baskom imut untuk cuci sayur, 2 piring plastik dan 2 liter minyak tanah (sejenak hampir membuat saya sesak napas mendengar harga-harganya).

Berbelanja sayuran dan lauk ke pasar juga tidak kalah mengagetkan, pokoknya harga sayuran di pasar Oksibil untuk 1 ikatnya rata-rata lebih mahal >3 kali lipat dibandingkan ketika saya berbelanja di warung sayur dekat rumah di Jakarta.

2 minggu pertama, saya dan suami sering ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur terutama sayur, yang untuk pergi ke pasar dari rumah perlu waktu +/- 15 menit perjalanan dengan mengendarai sepeda motor. Namun semenjak motor kami rusak, saya sering belanja di mama-mama yang lewat di depan rumah pada pagi hari, tentu saja dengan harga yang sama saya bisa dapatkan jumlah sayuran yang lebih banyak ketimbang berbelanja di pasar :). Oh ya, di dekat rumah ada juga warung sayur kecil seorang mama yang menjual sayuran, tentunya pilihannya tidak banyak karena penjualnya hanya 1 orang.

Jamur yang kami beli di mama-mama yang lewat depan rumah

Tinggal di bagian kota di Oksibil saya rasa lebih nyaman daripada kami yang tinggal di kampung Okpol (daerah rumah dinas kami). Tentu saja bagi mereka yang tinggal di daerah kota, mendapat fasilitas listrik pemda (yang beroperasi dari jam 6 sore s.d 12 malam) dan air yang semuanya tidak dipungut biaya.Jauh berbeda dengan tempat tinggal kami di Okpol yang mengandalkan air sungai dan hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan listrik juga kami harus mengadakan sendiri dengan menggunakan panel surya sebagai sumber tenaga listrik :). Dengan semua keterbatasan itu, maka saya dan suami hanya bisa menikmati hiburan dengan menonton film lewat laptop (yang sebelumnya harus dicharge di kantor, karena kami belum punya inverter sehingga untuk kebutuhan listrik untuk charging tidak bisa dilakukan) dan ngobrol (untuk yang 1 ini kami punya waktu berkualitas satu sama lain ^_^).  Oh ya, untuk berobat ke RS, puskesmas atau pos kesehatan kampung juga tidak dipungut biaya sama sekali bagi seluruh masyarakat Oksibil.

Karena udaranya dingin maka jaket adalah hal yang wajib dikenakan kemana-mana (pose di depan kantor suami)

Memasak nasi, mengolah bumbu masak, semua itu saya lakukan manual sehingga rasanya kok semua masakan itu terasa lebih enak daripada masakan saya di Jakarta, hahahaha. Mungkin ini yang dinamakan walaupun kondisinya terbatas, tapi jika dilewati berdua pasti akan terasa lebih nikmat, hehehehe. Yup, selama saya di Oksibil suami selalu menyempatkan diri untuk pulang makan siang di rumah.

Beberapa kali jika pekerjaan di rumah sudah selesai, suami mengajak saya untuk ikut ke kantornya. Yaa, selain untuk charge HP saya juga bisa menikmati fasilitas wifi di kantor, rasanya senang sekali kalau bisa tersambung ke dunia luar :) yeeeay. Untuk hiburan lain ketika di Oksibil adalah mengunjungi keluarga batak lainnya, membuat acara bebakaran dan pergi ke pasar (hahaha pergi ke pasar bagi saya adalah 1 cara lain untuk menyegarkan pikiran).

Karena di rumah kami tidak tersedia listrik untuk arus AC, maka untuk kebutuhan pakaian yang rapi, kami menumpang menyetrika di rumah bos suami (dulunya suami juga tinggal di situ). Jadi sekali jalan untuk kegiatan ini, pasti motor kami penuh dengan tas pakaian yang harus disetrika dan dicuci (sering sekali kegiatan mencuci kami harus menumpang juga, karena keterbatasan air di rumah).

Kalau ditanya apakah saya senang tinggal di Oksibil, maka jawabannya adalah iya dan tidak, lhooo?
Jika untuk jangka pendek saja, maka kehidupan di Oksibil itu menyenangkan. Udara yang segar, jauh dari kemacetan, alam yang indah dan waktu yang tersedia untuk bersama keluarga serta kekeluargaan dengan teman-teman seperjuangan yang susah ditemukan di Jakarta, membuat tinggal di Oksibil itu menyenangkan. Namun, jika berpikir untuk jangka panjang, seperti sekolah lanjutan bagi anak-anak, keadaan darurat yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut serta biaya hidup dan fasilitas untuk rumah tangga yang terbatas, maka jika ada pilihan untuk pindah, maka saya akan mengambil pilihan tersebut. Pemikiran ini juga didasarkan kepada tidak adanya hak untuk memiliki tanah secara pribadi di Oksibil, karena semua tanah yang ada merupakan tanah adat yang susah sekali untuk dimiliki karena faktor adat dan biaya juga (harga tanah di Oksibil cukup mahal). Sehingga untuk tempat tinggal di hari tua tidak terjamin ketika suami saya pensiun dari pekerjaannya.

Bagi saya kunjungan pertama saya ke Oksibil berkesan bahagia, walaupun dengan fasilitas terbatas, namun karena bersama orang terkasih, maka semua itu berbuah senyum. Ah, pergulatan batin sekarang ini.







Jumat, 03 Februari 2017

Menghidupkan Api

Cerita mengenai kepala dan bukan ekor sebelumnya adalah sesuatu yang semakin sering mendengung di kepala saya akhir-akhir ini. Well, saya memang sempat down beberapa waktu terakhir, keputusan untuk bertahan di tempat saya sekarang dengan segala kondisinya, membuat saya lebih sering menjadi "pecundang". Hiks, keras ya sampai segitunya mengatakan kepada diri sendiri. Kenapa? Karena saya merasa menjadi penonton itu bukan saya banget :). Berdiam diri melihat orang lain sibuk, tidak diberi tanggungjawab dan dibiarkan begitu saja membuat saya depresi dengan keadaan yang ada. Dalam hati sering sekali saya menangis dan berkata dengan lirih, kenapa saya harus berada di posisi ini? :(

Membaca blog orang lain, melihat-lihat resep dan mempraktekannya yang menjadi pengisi kekosongan. Oh ya, saya juga belajar make up dengan melihat tutorial  di Youtube. Tapi ternyata masalah gak selesai sampai di situ. Sebagai orang yang punya tanggung jawab moral, saya berusaha untuk "menjemput bola". Hmmm, tidak gampang, karena mungkin atmosfer yang tercipta secara umum membuat orang lain cenderung "diam". 

Tamparan hidup kemudian datang lagi ketika, adik ipar saya menjadi the best AM di perusahaan tempat dia bekerja. Perjalanan karir yang kelihatan grafik pertumbuhannya dan mendapat pengakuan dari organisasi tempat dia bernaung, merupakan cambuk yang mengingatkan saya lagi dan lagi tentang menjadi pemenang. Yup, saya tidak boleh tetap diam, saya harus mencari kesibukan produktif yang lain. Karena kisah hidup yang menarik tidak datang dari mereka yang duduk diam menonton.

Beberapa hari belakangan ini saya mengikuti beberapa channel Youtube orang-orang yang menurut saya inspiratif. Hmmm, ada keinginan juga untuk seperti mereka, yang pasti bukan copy paste kehidupan mereka, tapi apa yang mereka isi dalam kehidupan mereka. Terlihat sekali mereka begitu menikmati keseharian hidup mereka, dan pastinya cerita menarik mereka dimulai dari kehidupan yang bergerak dan maju.

Mungkin seharusnya begitulah kehidupan, saya melihat juga beberapa rekan di kantor, yang mengisi waktu mereka dengan kesibukan produktif yang lain, sehingga tidak ada kebosanan dalam menunggu waktu. Dan kesimpulan dari sudut pandang saya dalam hal ini adalah untuk tidak menyerah karena kondisi atau lingkungan. Jika lingkungan tidak memungkinkan untuk bertumbuh, carilah lingkungan baru yang dapat membantu (tentunya jika belum waktunya pindah kantor, carilah kesibukan produktif lain, hehehehe hidup tetap harus realistis).

Sepenggal kata-kata untuk menyemangati diri sendiri
Untuk tidak larut dalam kebosanan
Untuk tidak menjadi tumpul karena tidak diasah
Maka untuk menghidupkan api yang membakar dan asah yang menajamkan hidup ini
Tulisan ini adalah bagian dari prosesnya




Selasa, 31 Januari 2017

Kepala dan Bukan Ekor

Sejak saya mulai kuliah di Jogja, saya langsung bergabung dalam persekutuan doa di gereja lokal. Ya, tentunya karena diajak oleh kakak-kakak senior dari Nabire. Bergabung dalam persekutuan doa membuat saya lebih banyak belajar tentang Firman Tuhan, salah satunya yang begitu melekat sampai saat ini dan saya jadikan pedoman hidup adalah Ulangan 28:13 "Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor,....". Dari sekian panjang kalimat dalam Firman Tuhan tersebut, "menjadi kepala dan bukan menjadi ekor" benar-benar seperti tertanam dalam kepala saya.

Yup, saya memposisikan diri saya, mengatakan dan mengingatkan kepada diri sendiri, bahwa Tuhan tidak menjadikan kita sebagai orang yang kalah, juga bukan menjadi ekor. Mungkin kalimat tersebut sekilas terkesan arogan dan bossy. Bagi saya tidak! :) 

Pemikiran ini lebih tertuju kepada penerimaan kepada diri sendiri, bahwa ketika saya berada dalam suatu kondisi, saya tidak hanya sebagai penonton/ pengikut yang tidak punya kehendak dan pasif. Pun ketika saya berada dalam suatu kondisi, tidak mengharuskan saya menjadi pemimpin, tapi sebagai orang yang tentunya punya kontribusi dalam kemajuan suatu kondisi. Tentunya, mungkin ini adalah salah satu yang sering dikatakan orang pada umumnya bahwa sebaik-baiknya kita adalah menjadi manfaat. Manfaat bagi diri sendiri dan kemudian untuk orang lain.

Menjadi kepala dan bukan ekor adalah suatu doktrin, bahwa saya harus mengendalikan diri sendiri. Apakah Anda pernah bertemu dengan orang yang sering sekali harus dituntun untuk melakukan / memutuskan hal-hal yang mungkin saja terlihat kecil (exclude mereka yang terlahir dengan kebutuhan khusus). Atau apakah Anda pernah bertemu dengan mereka yang pasif dan hanya menunggu saja tanpa adanya inisiatif?

Tuhan pastinya menciptakan manusia secara spesial dan mungkin kalau kita telaah lagi dalam proses terjadinya pembuahan, bukankah embrio terjadi setelah adanya perjuangan yang berat. Dari pemikiran itu, kembali lagi saya diingatkan bahwa saya ada untuk menjadi kepala untuk diri saya sendiri. Mampu memimpin dan membawa diri saya sendiri kepada sesuatu yang lebih baik.

:) Tuhan memang ajaib, Dia merancang kita untuk menjadi pribadi yang mandiri untuk menentukan pilihan hidup dan tentunya menjadi pribadi  yang hebat.

*Belajar dan belajar untuk mengenal diri sendiri dan juga belajar menjadi anak Tuhan yang lebih baik*
Tuhan berkati

Minggu, 22 Januari 2017

Harapan itu Semangat Hidup

Selamat tahun baru 2017 :)
Walaupun hari ini sudah hari ke 23 di tahun ini, tapi yang namanya semangat tahun baru pasti masih menyala bukan :) Di beberapa sosial media, masih terlihat ada beberapa organisasi yang baru merayakan natal dan tahun baru, jadi atmosfernya masih tetap hangat.

Bicara tentang tahun baru tidak akan terlepas dengan yang namanya resolusi atau ketetapan hati untuk melakukan sesuatu. Resolusi untuk menikah, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, naik jabatan atau apapun itu, resolusi umumnya dominan dengan suatu harapan yang baik.

Bicara mengenai resolusi pastinya mengandung harapan, yang pastinya memberikan energi positif yang luar biasa untuk menjalani dan mencapai tujuan-tujuan hidup. Namun apa yang terjadi jika yang muncul adalah rasa putus asa, kecewa dan tidak berani berharap lagi? Bersyukurlah jika kamu tidak pernah mengalami hal itu, karena berada dalam kondisi seperti itu benar-benar membuka semua energi negatif untuk menyerang hidup, bahkan sampai kepada hal-hal yang tidak kita sadari.

Bisikan seperti hidup yang pedih, tertolak dan merasa tidak berarti benar-benar nyata terdengar bagi orang yang dalam keadaan putus asa. Warna hitam pastinya mewakili kondisi ini. 
Saya mengalami kondisi ini, saya pernah mengalami harapan yang membuat hidup dan juga pernah mengalami rasa pahit yang membunuh hidup.

Pengalaman hidup yang membesarkan saya, akhirnya membuat saya mengerti kenapa ada beberapa orang yang akhirnya menjadi begitu depresi dalam hidupnya. Tentunya dengan pernah merasakan apa yang namanya masa hitam itu. Bersyukur karena ada orang yang perduli dan mengingatkan betapa kasih Tuhan itu begitu besar, menyelamatkan saya untuk segera bangkit. Ya, kasih Tuhan yang menjadi lilin harapan.

Apakah masalahnya sudah selesai sampai di titik tsb, jawabannya tidak. Seseorang selalu berkata kepada saya bahwa kondisi kehidupan itu seperti roda, ada waktunya untuk menangis, ada waktunya untuk tertawa. Karena itu belajar untuk menghadapi fase hidup akan selalu menjadi bagian yang harus dilakukan.

Setidaknya, saya mengalami satu fase hidup, dimana saya bisa merasakan apa yang orang lain rasakan mengenai rasa putus asa. Yang tidak hanya melahirkan rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi juga kesempatan untuk melayani mereka yang pedih hati dengan mendoakan mereka.

Tuhan baik, bukan hanya karena berkat materi yang Dia berikan. Kekuatan untuk dapat berjalan dalam kekelaman merupakan berkat yang lebih besar daripada hanya sekedar materi. Dia benar-benar tahu apa yang dibutuhkan oleh anak-anakNya.

Seperti kata pe-Mazmur 23" TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku".

Dan juga kata Amsal "Hati yang gembira adalah obat yang manjur,tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang".

Tuhan memberkati :)