Senin, 13 Juni 2016

Pekerja di Ibukota

Kebanyakan orang-orang yang saya kenal yang tinggal dan bekerja di luar Jakarta menganggap bahwa kerja di Jakarta itu "enak". Mulai dari pendapatan, fasilitas umum dan keterjangkauan ke daerah sekitar dalam pulau jawa yang lebih mudah (mungkin karena inilah jumlah pendatang ke Jakarta tiap tahunnya meningkat). Untuk hal-hal yang berhubungan dengan fasilitas umum dan keterjangkauan itu saya setuju, tapi untuk urusan pendapatan harus dilihat dahulu di sektor apa dan posisi apa seseorang itu bekerja.

Kembali ke pandangan beberapa orang tadi, kenapa bisa dibilang begitu, mungkin karena mereka melihat saya bisa pulang kampung setiap tahun dengan harga tiket yang tidak murah, mungkin juga dengan image ibukota yang terdengar "mewah" di telinga mereka. Hmmm.....

Sebenarnya tulisan ini untuk mewakili jerit hati saja, dengan pandangan seperti yang saya sampaikan sebelumnya, seakan-akan orang menganggap bahwa mendapatkan "uang" di Jakarta itu gampang :(
Okay, anggap saja seseorang itu bekerja di sektor dan posisi yang membuat dia menerima pendapatan yang lebih, sehingga kelihatan mapan. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah seseorang itu tidak mendapatkan semua itu dengan gampang. Kenapa?? Apakah orang-orang di luar sana tau, bagaimana perjuangan seseorang untuk berangkat dan pulang kantor? Jam berapa dia harus berangkat ke kantor dan sampai jam berapa dia bisa ada di rumah? Apa yang dia hadapi dalam pekerjaannya?
Hei, ada pepatah yang mengatakan bahwa usaha keras tidak mengkhianati hasil. Jadi kesimpulannya jika ada orang sukses di ibukota negeri ini, pasti dia lebih berusaha dalam mendapatkannya.

Kemudian apa hubungannya dengan orang-orang di luar sana tadi? Simple, dengan berpikir bahwa seseorang itu punya cukup uang, terkadang beberapa orang di luar sana tidak perduli dengan keadaan kita. Ketika meminjam duit dan tidak bisa dikasih, mereka langsung marah. Ketika membuat daftar keinginan seakan semuanya gampang, toh ada ini yang bayarin :(.
Hiks, bukan berarti mo pelit atau gimana, pertanyaan hati yang sering keluar kalo ketemu orang seperti ini adalah apakah dia tidak tau betapa pedihnya mencari sesuap nasi untuk kehidupan di negeri ini, sehingga kadang menggampangkan sesuatu.

Hikmah dibalik cerita adalah dengan melihat bagaimana kerasnya orang berusaha di kota ini, memicu saya untuk tidak bersantai ria dalam kehidupan, karena semut saja bekerja keras untuk hidup.
Tidak ada hidup yang gampang hanya dengan bermimpi di atas tempat tidur, jika menginginkan sesuatu yang lebih maka seseorang harus bekerja lebih.
Dan kepada kalian yang melihat wah nya kehidupan saudara/ teman yang tinggal dan bekerja di Jakarta, tolonglah untuk lebih mengerti bagaimana kerasnya mereka berusaha.

#justlovenohate



Rabu, 01 Juni 2016

AsNTM S4

Akhirnya.... setelah menerka-nerka dan menunggu, pemenangnya adalah Tawan dari Thailand.
Okay, sebelum berbicara mengenai episode terakhir pada rabu malam kemarin, sebenarnya saya sebelumnya menjagokan Sang In dari Korea Selatan. Yup, menurutku dia punya karakter petarung dan tangguh, cieeeee. 

Cerita mengenai Sang In dimulai pada episode dimana dia tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit pada saat pengambilan foto. Awalnya sih tidak terlalu memperhitungkan cewek yang satu ini, karena menurutku Aldilla adalah sosok penerus Gani sang pemenang. Dan ternyata, Sang In membuat kejutan, setelah memaksa untuk ke lokasi pemotretan dengan kondisi lemah, akhirnya dia bisa menghasilkan gambar yang bagus dan menjadi pemenang di tantangan tersebut. Ooh Sang In, kamu itu udah lebih dari pemenang pada saat itu.

foto terbaik pada saat episode sakit (sumber : wikimedia)

Cerita mengenai Sang In tidak berhenti saat balada sakitnya itu, yang paling menegangkan justru ketika pengambilan gambar untuk brand Subaru, yang parahnya adalah sang customer alias bos Subaru gak suka dengan mimik muka Sang In pada saat pengarahan untuk pengambilan gambar. Yeah, menurut saya pribadi, sepertinya Sang In tidak bermaksud untuk meremehkan pengarahan yang diberikan, tapi dia merasa pengambilan gambar itu sangat ekstrim (ya iya dong, harus melakukan pengambilan gambar di tengah mobil yang sedang atraksi, siapa sih yang gak tarik napas panjang) sehingga akhirnya mimik mukanya ternyata membuat bos Subaru sangat marah. Daan, setelah drama teriaknya bos Subaru, permintaan maaf ala Korea, menurut saya foto Sang In dalam tantangan itu seharusnya tidak berada di dua terbawah :(. Okay, setelah beberapa episode itu tentunya saya semakin menjagokan Sang In sebagai pemenang (tolong dicatat kalo Sang In punya 4 foto terbaik).

Kembali kepada sang pemenang season 4 ini, menurut saya Tawan sebenarnya seorang model yang punya bakat. Dia cantik, punya postur tubuh yang mendukung dan attitude nya juga baik (Sang In juga, hehehe). Cuma memang yang membuat dia tidak menonjol adalah ketidakpedeannya dia, hmmmm.
Kenapa? tenyata pada 2 episode terakhir, saya baru ngeh kalo jeng Tawan ini gak terlalu fasih berbahasa inggris (pantasan aja sering ada subtittle inggris ketika dia bicara), belum lagi mungkin dari latar belakang keluarga (kalo yang ini hasil analisa saya sendiri), yang mana dia bukan dari keluarga berada. Tapi yang menarik adalah ternyata dia juga berjuang. Jadi sebenarnya diam-diam jeng Tawan ini menarik perhatian saya, tapi karena dia mungkin belum setangguh dan sepetarung Sang In, Tawan tidak masuk hitungan saya.


Daaan, pada akhirnya, yang diam-diam menarik perhatian saya itu akhirnya bisa membuktikannya lewat 2 episode terakhir. Tawan menghasilkan gambar terbaik dan juga sebagai model terbaik dalam fashion show dengan tema Avant Garde. Yes, Tawan memang layak menjadi pemenangnya. Dia hanya perlu waktu dan mentor yang baik untuk mengasah bakatnya :).
Sooo, Sang In di hatiku kamu juga adalah pemenang (ternyata dia juga mendapat kontrak dengan Storm Model Management London :))
Good luck to both of u gorgeus girl ...:) :)

Buat Indonesia, Patricia dan Aldilla, kalian berdua membuat saya bangga (angkat tangan kanan dikepal dan teriak merdeka!!!)