Senin, 07 Agustus 2017

Ujicoba Masak Udang Saos Campur Tahu

Hari sabtu kemarin, setelah perjalanan panjang dari rumah saudara di kebun jeruk, saya mampir ke warung sayur langganan baru untuk belanja lauk buat persediaan selama seminggu kedepan. Karena waktu saya belanja sudah siang (jam 9 pagi), alhasil hampir semua lauk sudah terjual, yang tersisa hanyalah ikan kembung dan udang segar. Langsung saja ikan dan udang itu saya borong :).

Karena waktu tidur malam saya sebelumnya kurang, maka begitu sampai di rumah, saya hanya membersihkan ikan dan udang tadi untuk dimasukan ke dalam kulkas sembari merendam pakaian kotor untuk dicuci. Dilanjutkan dengan membeli 2 galon air di warung tetangga. Begitu selesai lantas saya berleha-leha di atas kasur sambil menghidupkan TV dan bermain HP, hahaha untuk kegiatan yang 1 ini memang saya juga merasa tidak efektif, karena yang pasti TV itu tidak saya tonton dan hanya menambah beban listrik (ini bukan kampanye, jadi jangan dicontoh).

Akhir pekan memang selalu menjadi idola, selain waktu bangun pagi yang tidak diburu-buru, juga adanya waktu untuk tidur siang yang lumayan lama. Ah, siapa yang tidak suka libur akhir pekan? Saking asyiknya saya baru terbangun ketika ada dering telepon dari suami saya. Karena waktu itu sudah lewat jam makan siang dan perut saya yang juga belum merasa lapar, saya tetap mendekam di atas kasur sambil bermalasan. Tapi tidak lama kemudian saya mendengar suara penjual tahu yang lewat di depan rumah, untuk yang 1 ini saya harus berlari ke luar rumah. 

Tahu lembut dan wangi

Saya aslinya penggemar berat tahu bapak yang biasanya lewat sore-sore di depan rumah, tapi sayang sekali berhubung waktu yang tidak pas jarang sekali saya bisa menikmati tahu bapak tersebut, makanya senang banget waktu dengar suara bapak penjualnya lewat di depan rumah. Tahunya lembut, tidak membal, wangi dan manis khas kedelai, karena itu saya langsung borong sebanyak 1 kotak makan ^_^. Oh ya, karena tahu ini begitu lembut, maka untuk penanganannya pun perlu hati-hati, kalau tidak mau tahu ini jadi hancur lebur.

Berhubung saya punya stok udang di kulkas, maka teringatlah saya mengenai masakan udang saos campur tahu dadu goreng, untuk itu saya lantas menyiapkan bumbu setahu saya, sangat menyenangkan. 
Tadaaa, ini hasilnya

Untuk bisa memasak dengan baik itu memang perlu praktek yang terus menerus, karena saya baru dalam hal ini, udang saos campur tahu saya menjadi kurang pas menurut tingkat kepuasan saya :). Urutan memasukan bahan makanan yang salah memang bisa mempengaruhi tekstur dan rasa makanan, ah jadi ingat iklan mie instan tentang urutan menghidangkan mie itu. Yup, tadinya saya berpikir bahwa sepanjang semua bahan yang diperlukan ada, maka jika terbalik 1 urutan proses, maka tidak akan mempengaruhi rasa masakan, ternyata saya salah, belajar lagi ^_^.

Well, walaupun masih harus belajar lagi tapi saya cukup puas dengan hasil masakan pada siang itu. Ditemani dengan capcay ala Mega, maka setengah piring sayur dan udang tahu habis untuk saya sendiri siang itu :).

Okay, prinsip saya, hidup itu tidak boleh pasrah, dan salah satu perwujudannya adalah lewat makanan. Walaupun bahan baku yang ada di kulkas terbatas dan sederhana, bukan berarti dapat dimasak asal-asalan saja. Buat saya, meskipun baru belajar memasak, saya pun harus berjuang untuk menghidangkan masakan yang baik buat diri sendiri. Bahkan jika itu pun hanya mie instan, maka ketika memasaknya tidak bisa sesederhana mendidihkan air dan memasukan mie serta bumbunya, mie instan juga punya hak untuk dimasak lebih baik ^_^, kalau ada sayur ya dicampur, kalau ada telur ya ditambahkan, seperti itu.

Katanya perjuangan hidup itu dilatih dari hal-hal kecil, karena itu jika manusia gampang sekali menyerah dan hanya bisa pasrah tanpa mencoba hal terbaiknya, maka bagaimana dia menjalani kehidupannya yang lain.

Semangat, belajar masak lagi, yess

Rabu, 02 Agustus 2017

Perjalanan Pertama ke Oksibil

Yeay, ini adalah cerita mengenai kunjungan pertama ke tempat suami (saya dan suami saat ini masih tinggal di kota yang berbeda). Perjalanan ini dimulai tanggal 18 Juni malam dari Jakarta dan tiba jam 9 pagi keesokan harinya di Oksibil. Oh ya, dari Jakarta ke #Oksibil memerlukan waktu +/- 6.5 jam di udara, dan perjalanan kemarin saya lalui dengan transit di Jayapura. Dari Jayapura sendiri saya memilih untuk naik pesawat maskapai milik Gatari (setahu saya untuk penerbangan Jayapura - Oksibil dengan pesawat tipe ATR 72 dilayani oleh #Gatari dan #Trigana). Sekedar informasi tentang penerbangan rute ini, jangan berharap ada jadwal yang pasti, karena bisa jadi ketika membeli tiket kita diminta untuk check in tiket jam 7 pagi, penerbangannya bisa delay kapan saja (penyebabnya terutama karena masalah cuaca). Kalau beruntung bisa berangkat sesuai jadwal, kalau tidak ya menunggu pemberitahuan lebih lanjut ^_^.

Sekilas informasi mengenai Oksibil "adalah merupakan ibukota dari kabupaten #PegununganBintang di provinsi Papua, yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Sebagian besar wilayahnya berada di dataran tinggi pengunungan dengan ketinggian 400 s.d 4000 meter dpl, hmm bisa dibayangkan bagaimana dinginnya di sana, brrrr".

Sampai saat saya kembali lagi ke Jakarta, transportasi dari Oksibil ke luar kota dan sebaliknya masih mengandalkan jalur udara. Tidak heran harga bahan makanan, bahan bakar minyak dan kebutuhan lainnya sangat mahal dibandingkan dengan kota yang pilihan jalur transportasinya bisa lewat darat dan laut ( harga di Oksibil bisa > 3 x lipat). Sebagai contoh untuk harga beras bisa mencapai harga 35.000 rupiah/ kg di pasaran, harga bensin 40.000 rupiah/ liter di pengecer (untuk bensin subsidi tetap sama dengan kota lainnya, cuma pembeliannya dibatasi hanya untuk motor dengan kuantiti 3 liter/ motor, itupun karena persediaan terbatas sehingga penjualan dalam 2 jam sudah habis).

Area bandara (gerbang masuk kota Oksibil ada Gapura dengan patung Yesus Kristus di atasnya)

Hari pertama di Oksibil, saya dan suami langsung membeli peralatan memasak, karena suami saya juga baru pindah ke rumah dinas. Respon pertama saat berbelanja peralatan dapur sampai membuat saya pusing kepala, hahaha. Bagaimana tidak, uang 1 juta rupiah habis untuk membeli 1 kompor hock imut yang 10 sumbu, 1 kuali kecil untuk menggoreng, 1 panci kukusan kecil, 1 sendok goreng dan saringannya, baskom imut untuk cuci sayur, 2 piring plastik dan 2 liter minyak tanah (sejenak hampir membuat saya sesak napas mendengar harga-harganya).

Berbelanja sayuran dan lauk ke pasar juga tidak kalah mengagetkan, pokoknya harga sayuran di pasar Oksibil untuk 1 ikatnya rata-rata lebih mahal >3 kali lipat dibandingkan ketika saya berbelanja di warung sayur dekat rumah di Jakarta.

2 minggu pertama, saya dan suami sering ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur terutama sayur, yang untuk pergi ke pasar dari rumah perlu waktu +/- 15 menit perjalanan dengan mengendarai sepeda motor. Namun semenjak motor kami rusak, saya sering belanja di mama-mama yang lewat di depan rumah pada pagi hari, tentu saja dengan harga yang sama saya bisa dapatkan jumlah sayuran yang lebih banyak ketimbang berbelanja di pasar :). Oh ya, di dekat rumah ada juga warung sayur kecil seorang mama yang menjual sayuran, tentunya pilihannya tidak banyak karena penjualnya hanya 1 orang.

Jamur yang kami beli di mama-mama yang lewat depan rumah

Tinggal di bagian kota di Oksibil saya rasa lebih nyaman daripada kami yang tinggal di kampung Okpol (daerah rumah dinas kami). Tentu saja bagi mereka yang tinggal di daerah kota, mendapat fasilitas listrik pemda (yang beroperasi dari jam 6 sore s.d 12 malam) dan air yang semuanya tidak dipungut biaya.Jauh berbeda dengan tempat tinggal kami di Okpol yang mengandalkan air sungai dan hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan listrik juga kami harus mengadakan sendiri dengan menggunakan panel surya sebagai sumber tenaga listrik :). Dengan semua keterbatasan itu, maka saya dan suami hanya bisa menikmati hiburan dengan menonton film lewat laptop (yang sebelumnya harus dicharge di kantor, karena kami belum punya inverter sehingga untuk kebutuhan listrik untuk charging tidak bisa dilakukan) dan ngobrol (untuk yang 1 ini kami punya waktu berkualitas satu sama lain ^_^).  Oh ya, untuk berobat ke RS, puskesmas atau pos kesehatan kampung juga tidak dipungut biaya sama sekali bagi seluruh masyarakat Oksibil.

Karena udaranya dingin maka jaket adalah hal yang wajib dikenakan kemana-mana (pose di depan kantor suami)

Memasak nasi, mengolah bumbu masak, semua itu saya lakukan manual sehingga rasanya kok semua masakan itu terasa lebih enak daripada masakan saya di Jakarta, hahahaha. Mungkin ini yang dinamakan walaupun kondisinya terbatas, tapi jika dilewati berdua pasti akan terasa lebih nikmat, hehehehe. Yup, selama saya di Oksibil suami selalu menyempatkan diri untuk pulang makan siang di rumah.

Beberapa kali jika pekerjaan di rumah sudah selesai, suami mengajak saya untuk ikut ke kantornya. Yaa, selain untuk charge HP saya juga bisa menikmati fasilitas wifi di kantor, rasanya senang sekali kalau bisa tersambung ke dunia luar :) yeeeay. Untuk hiburan lain ketika di Oksibil adalah mengunjungi keluarga batak lainnya, membuat acara bebakaran dan pergi ke pasar (hahaha pergi ke pasar bagi saya adalah 1 cara lain untuk menyegarkan pikiran).

Karena di rumah kami tidak tersedia listrik untuk arus AC, maka untuk kebutuhan pakaian yang rapi, kami menumpang menyetrika di rumah bos suami (dulunya suami juga tinggal di situ). Jadi sekali jalan untuk kegiatan ini, pasti motor kami penuh dengan tas pakaian yang harus disetrika dan dicuci (sering sekali kegiatan mencuci kami harus menumpang juga, karena keterbatasan air di rumah).

Kalau ditanya apakah saya senang tinggal di Oksibil, maka jawabannya adalah iya dan tidak, lhooo?
Jika untuk jangka pendek saja, maka kehidupan di Oksibil itu menyenangkan. Udara yang segar, jauh dari kemacetan, alam yang indah dan waktu yang tersedia untuk bersama keluarga serta kekeluargaan dengan teman-teman seperjuangan yang susah ditemukan di Jakarta, membuat tinggal di Oksibil itu menyenangkan. Namun, jika berpikir untuk jangka panjang, seperti sekolah lanjutan bagi anak-anak, keadaan darurat yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut serta biaya hidup dan fasilitas untuk rumah tangga yang terbatas, maka jika ada pilihan untuk pindah, maka saya akan mengambil pilihan tersebut. Pemikiran ini juga didasarkan kepada tidak adanya hak untuk memiliki tanah secara pribadi di Oksibil, karena semua tanah yang ada merupakan tanah adat yang susah sekali untuk dimiliki karena faktor adat dan biaya juga (harga tanah di Oksibil cukup mahal). Sehingga untuk tempat tinggal di hari tua tidak terjamin ketika suami saya pensiun dari pekerjaannya.

Bagi saya kunjungan pertama saya ke Oksibil berkesan bahagia, walaupun dengan fasilitas terbatas, namun karena bersama orang terkasih, maka semua itu berbuah senyum. Ah, pergulatan batin sekarang ini.